Go to full page →

Bagian 5— PELAJARAN DASAR LAINNYA MABJ 88

PASAL 13— Pengendalian Diri MABJ 89

Siapkan Anak-anak bagi Kehidupan dan Tugas-tugasnya. Baik jugalah bagi ibu untuk bertanya dengan rasa cemas yang dalam, sementara ia memandang kepada anak-anak yang diserahkan dalam pengawasannya, Apakah maksud dan tujuan yang utama pendidikan mereka? Apakah itu antuk menyanggupkan mereka agar dapat menghadapi hidup dan tugas-tugasnya, untuk menyanggupkan mereka agar bisa memegang kedudukan yang terhormat di dalam dunia, untuk berbuat ke-bajikan, untuk mendatangkan keuntungan bagi sesama manusia, untuk memperoleh pada akhirnya pahala orang benar? Jikalau demikian, maka pelajaran pertama yang harus diajarkan kepada mereka ada- lah pengendalian diri; karena tidak ada seorang yang tak berdisiplin, keras kepala dapat mengharapkan untuk berhasil di dalam dunia ini atau beroleh pahala di dalam dunia yang akan datang. 1Pacific Health Journal, Mei 1890. MABJ 89.1

Didik Anak Itu Supaya Tunduk. Anak-anak kecil, sebelum mere-ka berusia satu tahun, mendengar dan mengerti apa yang dikatakan yang berkaitan dengan diri mereka, dan mengetahui sampai berapa jauh mereka harus dimanjakan. Kaum ibu, engkau harus mengajar anak-anakmu supaya tunduk atas kemau-anmu. Hal ini harus engkau peroleh jikalau engkau mau mengendalikan anak-anakmu itu, dan memelihara martabatmu sebagai seorang ibu. Dengan cepat anak-anakmu akan mempelajari apa yang engkau harapkan dari padanya, mereka mengetahui kapan kemauan mereka akan mengalahkan kemauanmu, dan akan menggunakan dengan sebaik-baiknya kemenangan mereka itu. 2Signs of the Times, 16 Maret 1891. MABJ 90.1

Adalah satu perkara yang paling kejam untuk membiarkan kebiasaan-kebiasaan yang salah diperkembangkan, untuk menyerahkan peraturan itu dalam tangan anakmu dan membiarkan dia yang memerintah. 3Christian Temperance and Bible Hygiene, him. 68. MABJ 90.2

Jangan puaskan Keinginan-keinginan yang Mementingkan Diri. Jikalau orangtua tidak berhati-hati, mereka akan memperlakukan anak-anak mereka demikian rupa sehingga akan menuntun anak-anak itu untuk menuntut perhatian dan kesempatan-kesempatan yang akan memaksa orangtuanya menyangkal diri mereka sendiri agar dapat memanjakan anak-anak mereka yang masih kecil itu. Anak-anak itu akan meminta kepada orangtua untuk berbuat banyak hal bagi mereka, untuk memuaskan keinginan mereka, dan orangtua akan tunduk kepada keinginan mereka, dengan tidak mempedulikan kenyataan bahwa hal seperti ini akan menanamkan sifat mementingkan diri di dalam hidup anak-anak itu. Tetapi dengan berbuat hal ini orangtua sedang melakukan kesalahan terhadap anak-anak mereka itu, dan akan mendapati di kemudian hari betapa sulitnya tugas untuk melawan pengaruh pendidikan yang telah diberikan pada tahun-tahun permulaan kehidupan anak itu. Anak-anak harus belajar pada masa kecilnya bahwa mereka tidak boleh dipuaskan apabila sifat mementingkan diri membangkitkan keinginan-keinginan di dalam diri mereka. 4Signs of the Times, 13 Agust. 1896. MABJ 90.3

Jangan Berikan Sesuatu yang Diminta oleh Seorang Anak dengan Cara, Menangis. Suatu pelajaran yang berharga yang sering di-ulang-ulanginya adalah bahwa seorang anak tidak boleh memerintah; dia bukanlah seorang majikan, karena kehendak dan kemauan ibu itulah yang harus terutama. Dengan cara demikian ia sedang mengajarkan kepada anak itu tentang pengendalian diri. Jangan berikan kepada mereka sesuatu yang mereka minta dengan cara menangis, sekalipun hatimu yang lemah lembut ingin berbuat hal ini; oleh karena jikalau mereka beroleh kemenangan satu kali dengan cara menangis maka mereka akan berharap mengulanginya. Untuk kali yang kedua peperangan itu akan berlangsung dengan lebih hebat lagi. 5Naskah 43,1900. MABJ 91.1

Jangan Biarkan Nafsu Amarah Dipertunjukkan. Di antara tugas-tugas pertama dari seorang ibu adalah untuk mengendalikan nafsu di dalam diri anak-anaknya yang masih kecil. Anak-anak jangan dibiarkan menunjukkan kemarahannya; mereka tidak boleh dibiarkan untuk membanting diri ke lantai, sambil memukul-mukul dan menangis oleh sebab sesuatu tidak diberikan kepada mereka, sesuatu yang bukan untuk kebaikannya. Saya merasa susah hati oleh karena saya pernah melihat betapa banyak orangtua yang memanjakan anak-anak mereka dalam mempertunjukkan nafsu amarah mereka. Para ibu seakan-akan menganggap luapan amarah seperti ini sebagai sesuatu hal yang harus mereka tanggung, dan nampaknya bersikap acuh tak acuh terhadap tingkah laku anaknya itu. Tetapi jikalau sesuatu yang jahat dibiarkan satu kali, maka hal itu akan diulang-ulanginya, dan hal itu akan menjadi suatu kebiasaan, dan dengan demikian tabiat anak itu akan menjadi jahat. 6Signs of the Times, 16 Maret 1891. MABJ 91.2

Kapan Waktunya untuk Menempelak Roh Jahat Itu. Saya sering lihat anak kecil membanting dirinya sambil berteriak-teriak jikalau keinginannya tidak dikabulkan. Inilah waktunya untuk mengusir roh jahat itu. Musuh akan berusaha menguasai pikiran anak-anak kita, tetapi akan kita biarkankah dia membentuk diri mereka sesuai dengan kemauannya? Anak-anak kecil ini tidak dapat melihat roh apakah yang sedang mempengaruhi mereka, dan tugas orangtualah untuk menggunakan pertimbangan dan kebijaksanaan bagi mereka. Kebiasaan-kebiasaan mereka harus diperhatikan dengan saksama. Kecenderungan-kecenderungan yang jahat harus dikekang, dan pikiran itu harus dirangsang kepada hal-hal yang baik. Dengan segala macam usaha anak itu harus diberi dorongan untuk menguasai dirinya. 7Christian Temperance and Bible Hygiene, hlm.61. MABJ 91.3

Mulailah dengan “Nyanyian dari Betlehem.” Para ibu harus men- didik bayi-bayi yang ada di pangkuan mereka sesuai dengan prinsip-prinsip dan kebiasaan yang benar. Mereka tidak boleh membiarkan anak-anak kecil itu memukul-mukulkan kepalanya ke atas lantai.... Biarlah ibu mendidik mereka semenjak masa bayi mereka. Mulailah dengan nyanyian dari Betlehem. Lagu-lagu yang merdu ini mempunyai suatu pengaruh yang menenangkan. Nyanyikan kepada mereka lagu-lagu yang berhubungan dengan Yesus dan kasih-Nya yang dapat mempengaruhi itu. 8Naskah 9,1893. MABJ 91.4

Jangan ada Kebimbangan atau Keragu-raguan. Sifat-sifat buruk di dalam seorang anak harus dengan segera dikekang; karena lebih lama tugas ini ditunda, maka akan lebih sulit melaksanakannya. Anak-anak yang punyai pembawaan cepat marah memerlukan pengawasan yang khusus dari orangtuanya. Mereka harus diperlakukan dengan cara yang amat manis budi tetapi tegas; tidak boleh ada kebimbangan atau keragu-raguan di pihak orangtua dalam masalah seperti ini. Tabiat yang dengan sendirinya akan mengekang pertumbuhan sifat-sifat yang salah di dalam diri mereka harus dipupuk dan diperkuat. Sikap memanjakan seorang anak yang pemarah dan mempunyai pembawaan yang salah akan membawa kebinasaannya. Dengan berlalunya waktu, sifat-sifat-nya yang salah itu akan menjadi lebih kuat, akan merusak perkembangan pikirannya, dan mengalahkan segala yang agung dan baik. 9Pacific Health Journal, Januari 1890. MABJ 92.1

Teladan Orangtua Sehubungan dengan Pengendalian Diri adalah Penting. Beberapa orangtua tidak mengendalikan dirinya sendiri. Mereka tidak mengendalikan selera makan mereka yang tidak menyehatkan dan sifat pemarah mereka; oleh sebab itu mereka tidak bisa mendidik anak-anak mereka dengan yang berkaitan dengan penyangkalan diri terhadap selera makan mereka, dan mengajar pada mereka tentang pengendalian diri. 10Pacific Health Journal, Oktober 1897. MABJ 92.2

Jikalau para orangtua ingin mengajar pada anak-anak mereka tentang pengendalian diri, mereka harus lebih dahulu membentuk kebiasaan itu di dalam diri mereka sendiri. Kebiasaan untuk menghardik dan mencari-cari kesalahan akan mendorong suatu sifat pemarah di dalam diri anak-anak mereka. 11Signs of the Times, 24 Nov. 1881. MABJ 92.3

Janganlah Jemu Berbuat Baik. Para orangtua terlalu mengingin-kan sesuatu yang mudah dan menyenangkan dalam melaksanakan tugas yang telah diserahkan oleh Allah kepada mereka di dalam kehidupan rumah tangga mereka. Kita tidak perlu melihat keadaan kejahatan yang mengerikan di antara orang-orang muda dewasa ini jikalau mereka telah dididik dengan sepatutnya di dalam rumah tangga mereka. Jikalau orangtua mau mengerjakan tugas yang telah diberikan Allah kepada mereka dan mau mengajar tentang pengekangan diri, penyangkalan diri, dan pengendalian diri kepada anak-anak mereka, baik melalui ajaran, dan juga teladan, maka mereka mendapati bahwa sementara mereka sedang berusaha untuk melaksanakan tugas mereka, sehingga akan diperkenankan oleh Allah, mereka juga akan mempelajari tentang pelajaran-pelajaran yang berharga di dalam sekolah Tuhan. Mereka akan mempelajari kesabaran, ketabahan, kasih, kelemahlembutan; dan semuanya ini adalah pelajaran yang sama yang harus mereka ajarkan kepada anak-anak mereka. MABJ 92.4

Setelah kepekaan moral orangtua dibangkitkan, dan mereka melakukan yang sudah lama mereka lalaikan itu dengan tenaga yang diba-rui, maka mereka hendaknya jangan menjadi kecewa atau membiarkan diri mereka terhalang di dalam pekerjaan ini. Terlalu banyak orang yang menjadi jemu dalam melakukan yang baik. Bilamana mereka mendapati bahwa adalah memerlukan kerja keras, dan pengendalian diri yang terus-menerus, dan anugerah yang dipertambahkan, sebagaimana juga pengetahuan untuk menghadapi keadaan darurat yang tidak diharapkan, maka mereka menjadi kecewa, dan menyerah dalam pergumulan itu, dan membiarkar musuh jiwa itu melaksanakan jalannya. Hari demi hari, bulan demi bulan tahun demi tahun, pekerjaan itu harus berlangsung terus, sampai tabiat anakmu itu dibentuk, dan kebiasaan-kebiasaannya diteguhkan dalam jalan yang benar. Engkau tidak boleh menyerah dan membiarkan keluargamu hanyut dalam suatu cara yang long-gar dan tidak terkendalikan. 12Review and Herald, 10 Juli 1888. MABJ 93.1

Jangan Sekali-kali Kehilangan Pengendalian atas Dirimu Sendiri. Janganlah sekali-kali kita kehilangan kendali atas diri kita sendiri. Biarlah kita selalu memandang kepada Teladan yang sempurna itu. Adalah merupakan sebuah dosa berbicara dengan cara yang tidak sabar dan marah atau merasa marah—sekalipun kita tidak berkata-kata. Kita harus berjalan dengan sepatutnya, sambil memberikan suatu penampilan yang benar dari Tuhan. Mengeluarkan kata-kata yang marah adalah bagaikan menggesekkan batu api dengan batu api: dengan sekejap hal itu akan menyalakan perasaan kemarahan. MABJ 93.2

Janganlah sekali-kali menjadi seperti duri yang menusuk. Di dalam rumah tangga jangan biarkan dirimu menggunakan kata-kata yang kasar dan marah. Engkau harus mengundang Tamu yang dari sorga supaya datang ke dalam rumahmu, dan pada saat yang sama memungkinkan bagi Dia dan malaikat-malaikat sorga tinggal bersama-sama engkau. Engkau harus menerima kebenaran Tuhan, proses penyucian oleh Roh Allah, keindahan kesucian, agar supaya engkau dapat menyatakan kepada orang-orang yang ada di sekelilingmu Terang kehidupan itu. 13Naskah 102,1901. MABJ 93.3

“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota,” kata orang yang bijaksana itu. Pria atau wanita yang memelihara keseimbangan pikiran pada waktu digoda untuk memanjakan kemarahan berdiri lebih tinggi di hadapan Allah dan malaikat-malaikat surga daripada jenderal yang termasyhur yang pernah memimpin satu bala tentara untuk berperang dan memperoleh kemenangan. Kata seorang kaisar yang ternama di atas tempat tidurnya menjelang saat-saat kematiannya, “Di antara segala kemenangan-kemenanganku hanya satu yang memberikan penghiburan kepadaku sekarang ini, yaitu kemenangan yang telah kuperoleh terhadap sifat pemarahku yang hebat itu.” Alexander dan Caesar telah menemukan bahwa lebih mudah mengalahkan satu dunia daripada mengalahkan diri mereka sendiri. Setelah menaklukkan bangsa demi bangsa, mereka telah gugur—seorang dari antara mereka “menjadi korban dari sifat tidak bertarak, yang lain korban dari cita-cita yang gila. 14Good Health, Nov. 1880. MABJ 94.1