Loading...
Larger font
Smaller font
Copy
Print
Contents
  • Results
  • Related
  • Featured
No results found for: "undefined".
  • Weighted Relevancy
  • Content Sequence
  • Relevancy
  • Earliest First
  • Latest First
    Larger font
    Smaller font
    Copy
    Print
    Contents

    Sekolah Nabi-Nabi

    Tuhan sendiri yang telah memimpin pendidikan bangsa Israel. Pengawasan-Nya tidak terbatas hanya pada urusan-urusan keagamaan mereka, apa pun yang mempengaruhi kesejahteraan pikiran dan jasmani mereka juga menjadi bahan pimpinan Ilahi, dan termasuk ke dalam lingkungan hukum Ilahi.SRNJ2 229.1

    Allah telah memerintahkan bangsa Israel supaya mengajar anak-anak mereka mengenai tuntutan-tuntutan-Nya, dan membuat mereka mengerti segala perlakuan-Nya terhadap leluhur mereka. Hal ini merupakan salah satu dari tugas-tugas khusus setiap orangtua—suatu tugas yang tidak boleh diperca-yakan kepada orang lain. Gantinya orang yang sama sekali tidak mengenal mereka, hati ayah dan ibu yang penuh kasih itu harus memberikan petunjuk kepada anak-anak mereka. Pemikiranpemikiran tentang Allah harus dihubungkan dengan segala peristiwa dalam hidup sehari-hari. Perbuatan Allah yang ajaib dalam melepaskan umat-Nya, dan janji-janji Penebus yang akan datang, harus sering diulang-ulangi kembali di dalam rumah tangga orang Israel; dan digunakannya segala lambang telah menjadikan pelajaran-pelajaran itu lebih tertanam di dalam ingatan mereka. Kebenaran yang besar dari pimpinan Allah dan kehidupan pada masa yang akan datang ditanamkan di dalam pikiran yang masih muda itu. Hal itu dilatih untuk melihat Allah di dalam pemandangan-pemandangan alam sama seperti di dalam sabda yang dinyatakan itu. Bintang-bintang di langit, pepohonan dan bunga-bungaan di padang, gunung-gunung yang tinggi, segala anak sungai—semuanya itu menyebutkan tentang Khalik itu. Upacara korban yang khidmat itu, dan perbaktian di Bait Suci, dan segala ucapan para nabi, adalah suatu pernyataan dari Allah.SRNJ2 229.2

    Demikianlah pendidikan yang diterima Musa di rumahnya yang sederhana di Gosyen; Samuel, oleh Hana yang setia itu; Daud, di tempat kediamannya di Betlehem; Daniel, sebelum tawanan memisahkannya dari rumah leluhurnya. Demikian pula, kehidupan mula-mula Kristus di Nazaret; demikian pula latihan oleh mana kanak-kanak Timotius belajar dari bibir “neneknya Lois, dan ibunya Eunike itu,” tentang kebenaran-kebenaran Kitab Suci.SRNJ2 230.1

    Persediaan yang lebih jauh telah diadakan untuk mendidik orang muda, dengan didirikannya sekolah nabi-nabi. Jikalau seorang anak muda ingin menyelidiki lebih jauh kebenaran firman Allah, dan mencari hikmat yang dari atas, agar ia bisa menjadi seorang guru di antara Israel, maka sekolah-sekolah ini terbuka baginya. Sekolah nabi-nabi ini didirikan oleh Samuel, untuk menjadi suatu benteng terhadap kejahatan yang telah merajalela, untuk menyediakan kesejahteraan moral serta kerohanian anak-anak muda, dan meningkatkan kemakmuran bangsa pada masa mendatang dengan melengkapinya dengan orang-orang yang sanggup bertindak dalam rasa takut akan Tuhan sebagai pemimpin dan penasihat. Di dalam mencapai tujuan ini, Samuel telah mengumpulkan kelompok-kelompok orang muda yang beribadat, pintar dan suka belajar. Mereka ini disebut sebagai anak-anak nabi. Apabila mereka berhubungan dengan Allah, dan mempelajari sabda-Nya dan pekerjaan-Nya, hikmat yang dari atas ditambahkan kepada bakat-bakat alamiah mereka. Para pendidiknya adalah orang-orang yang bukan hanya fasih dalam kebenaran Ilahi, tetapi juga mereka yang telah menikmati hubungan dengan Allah melalui pengalaman pribadi mereka, dan telah menerima karunia yang istimewa dari Roh-Nya. Mereka telah memperoleh hormat dan kepercayaan dari orang banyak, baik untuk pengajaran maupun peribadatan mereka.SRNJ2 230.2

    Pada zaman Samuel ada dua buah sekolah seperti ini—satu di Rama, tempat tinggal nabi itu, dan yang lain di Kiryat-Yearim, tempat terdapatnya tabut Allah pada waktu itu. Yang lain didirikan pada hari-hari mendatang sesudah saat itu.SRNJ2 231.1

    Para murid dari sekolah ini membiayai diri mereka sendiri dengan jalan bekerja mencangkul tanah, atau di dalam pekerjaan pertukangan lainnya. Di kalangan orang Israel hal ini tidaklah dianggap sebagai sesuatu yang hina atau pun janggal; sesungguhnya, malah dianggap suatu kejahatanlah membiarkan anak-anak bertumbuh di dalam kelalaian mengambil bagian dalam pekerjaan yang berguna. Oleh perintah Allah. setiap anak diajar beberapa macam pekerjaan, sekalipun ia harus dididik untuk suatu jabatan yang suci. Banyak dari antara guru-guru agama ini membiayai diri mereka sendiri dengan pekerjaan tangan. Sekali pun pada zaman rasul-rasul, Paulus dan Akwila tidak kurang dihormati oleh sebab mereka telah mencari nafkahnya dengan membuat tenda-tenda.SRNJ2 231.2

    Mata pelajaran yang terutama di sekolah-sekolah ini adalah hukum Allah, dengan petunjuk-petunjuk yang telah diberikan kepada Musa, sejarah yang suci, musik rohani, dan puisi. Caranya mendidik amat jauh berbeda daripada yang ada di sekolah-sekolah teologia yang ada sekarang ini, dari mana banyak pelajar yang ditamatkan, dengan lebih sedikit pengetahuan Allah yang sebenarnya dan kebenaran-kebenaran agama daripada tatkala mereka mulai masuk. Di sekolah-sekolah pada zaman dulu itu tujuan termulialah mempelajari kehendak Allah, serta tugas manusia kepada-Nya. Dalam catatan sejarah yang suci itu terlihat jejak Tuhan. Kebenaran-kebenaran yang agung yang dinyatakan di dalam lambang-lambang telah dihadapkan kepada pandangan manusia, dan iman dapat memahami tujuan yang terutama dari segala sistem itu— Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia ini.SRNJ2 231.3

    Satu Roh pengabdian dikembangkan. Para pelajar bukan hanya diajar tentang tanggung jawab untuk berdoa, tetapi mereka juga diajar bagaimana caranya berdoa, bagaimana caranya mendekati Khalik mereka, bagaimana menyatakan iman di dalam Dia, dan bagaimana untuk mengerti dan menurut akan pelajaran-pelajaran dari Roh-Nya. Pengetahuan-pengetahuan yang disucikan ditampilkan dari perbendaharaan Allah. perkara-perkara yang baru dan lama, dan Roh Allah dinyatakan di dalam nubuatan dan nyanyian rohani.SRNJ2 231.4

    Musik dijadikan untuk melayani suatu maksud yang suci, untuk mengangkat pikiran kepada perkara-perkara yang suci, agung dan me-ninggikan, dan untuk membangkitkan di dalam jiwa pengabdian serta rasa syukur kepada Allah. Betapa besarnya perbedaan antara adat kebiasaan kuno ini dengan tujuan musik sekarang yang sekarang ini sering diadakan! Betapa banyak orang yang menggunakan karunia ini untuk meninggikan diri, ganti menggunakannya untuk mempermuliakan Allah! Suatu perasaan cinta musik menuntun orang yang kurang berhati-hati untuk menggabungkan diri ke dalam kumpulan orang yang cinta dunia dan yang mencari kepelesiran di tempat yang dilarang Allah untuk dimasuki anak-anak-Nya. Dengan demikian apa yang merupakan suatu berkat yang besar apabila digunakan dengan benar, menjadi salah satu alat yang paling berhasil yang olehnya Setan memalingkan pikiran dari tanggung jawab dan dari tugas untuk merenung-renungkan perkara-perkara yang kekal.SRNJ2 232.1

    Musik membentuk suatu bagian dari perbaktian kepada Allah di surga, dan kita harus berusaha, di dalam nyanyian puji-pujian kita, supaya sedekat-dekatnya menyelaraskannya dengan paduan suara surga. Latihan suara yang sepatutnya merupakan suatu perkara yang penting dalam pendidikan, dan tidak boleh diabaikan. Menyanyi, sebagai suatu bagian dari upacara keagamaan, seperti halnya berdoa adalah merupakan suatu perbuatan dalam perbaktian. Hati harus dapat merasakan roh nyanyian itu, agar supaya itu dapat dinyatakan dengan sesungguhnya.SRNJ2 232.2

    Betapa besamya perbedaan di antara sekolah-sekolah yang diajar oleh para nabi Allah, dengan lembaga-lembaga pendidikan kita yang modem sekarang ini! Betapa sedikitnya sekolah-sekolah yang bisa kita dapati yang tidak dikuasai oleh adat serta kebiasaan-kebiasaan duniawi! Ada satu kekurangan yang menyedihkan dalam pembatasan yang sepatutnya dan disiplin yang bijaksana. Adanya kelalaian dalam firman Allah, di antara orang yang mengaku sebagai umat Kristen, adalah sangat menakutkan. Kata-kata yang dangkal, yang merupakan perasaan sematamata, diberikan sebagai petunjuk dalam moral dan agama. Keadilan dan rahmat Allah, keindahan kesucian, dan upah yang pasti dari perbuatan benar, sifat kejinya dosa, dan kepastian dari akibat-akibatnya yang me-ngerikan, tidaklah ditanamkan di dalam pikiran orang-orang muda. Per-gaulan yang jahat mengajarkan jalan-jalan kejahatan bagi orang muda, keonaran, dan kebejatan akhlak.SRNJ2 232.3

    Bukankah banyak pelajaran yang dapat ditimba oleh para pendidik zaman sekarang ini dari sekolah-sekolah Ibrani zaman dulu itu? Ia yang menciptakan manusia telah menyediakan keperluan perkembangan dalam jasmani dan pikiran dan jiwanya. Oleh sebab itu, sukses yang sebenarnya dalam pendidikan bergantung atas kesetiaan manusia melaksanakan rencana Khalik itu.SRNJ2 233.1

    Tujuan pendidikan yang sebenarnya adalah untuk memulihkan kembali peta Allah di dalam jiwa. Pada mula pertama Allah menciptakan manusia menurut teladan-Nya. Ia mengaruniai manusia dengan sifatsifat yang agung. Pikirannya amatlah seimbang, dan segala kemampuan dirinya serasi adanya. Tetapi kejatuhan manusia ke dalam dosa serta akibat-akibatnya telah merusakkan pemberian-pemberian ini. Dosa telah menodai dan hampir-hampir menghapuskan peta Allah di dalam diri manusia. Adalah untuk memulihkan hal ini, maka rencana keselamatan telah diadakan, dan suatu masa percobaan telah diberikan kepada manusia. Untuk membawa dia kembali kepada kesempurnaan yang pada mulanya ia telah dijadikan, adalah tujuan yang besar hidup ini—tujuan yang menjadi dasar bagi yang lainnya. Ini adalah pekerjaan para orang tua dan guru, di dalam pendidikan anak-anak muda, untuk bekerja sama dengan maksud Ilahi; dan di dalam berbuat demikian mereka adalah “kawan sekerja Allah.” 1 Korintus 3:9.SRNJ2 233.2

    Segala kesanggupan yang berbeda-beda yang dimiliki manusia— pikiran, jiwa dan tubuh—telah diberikan oleh Tuhan kepada mereka, supaya digunakan sedemikian rupa sehingga akan mencapai taraf kesempurnaan yang tertinggi. Tetapi hal ini tidak boleh bersifat mementingkan diri dan tertutup; oleh karena tabiat Allah, yang peta-Nya harus kita terima, adalah kebajikan dan kasih. Setiap kesanggupan, setiap sifat, yang telah diberikan Allah kepada kita, harus digunakan demi kemuliaan-Nya, dan untuk meninggikan sesama manusia. Dan di dalam pengguna- an seperti ini terdapatlah cara yang paling suci, agung dan bahagia.SRNJ2 233.3

    Kalau prinsip ini diberi perhatian atas tuntutannya yang penting, maka akan terjadi suatu perubahan yang radikal di dalam banyak metode pen-didikan sekarang ini. Gantinya mengajak kepada kehendak yang sombong dan mementingkan diri, membangkitkan satu roh yang bersaing, maka para guru akan berusaha membangkitkan kasih terhadap kebajikan, kebenaran dan keindahan—untuk membangkitkan keinginan pada kesempurnaan. Para pelajar akan berusaha memperkembangkan pemberian-pemberian Allah di dalam dirinya, bukan agar supaya melebihi orang lain, tetapi untuk menggenapkan maksud Khalik dan untuk menerima peta-Nya. Gantinya dituntun kepada ukuran duniawi semata-mata, atau didorong oleh keinginan untuk meninggikan diri yang merupakan sesuatu yang merusak dan meremehkan, maka pikiran akan dituntun kepada Khalik, untuk mengenal Dia, dan menjadi seperti Dia.SRNJ2 234.1

    “Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian.” Amsal 9:10. Pekerjaan yang besar dalam hidup adalah membangun tabiat, dan suatu pengetahuan tentang Allah adalah dasar dari pada segala pendidikan yang benar. Untuk membagikan pengetahuan ini, dan untuk membentuk tabiat selaras dengan itu, haruslah menjadi tujuan pekerjaan guru. Hukum Allah adalah satu pantulan tabiat-Nya. Oleh sebab itu pemazmur berkata, “Sebab segala perintah-Mu benar,” dan “aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu.” Mazmur 119:172, 104. Allah telah menyatakan diri-Nya kepada kita di dalam hasil ciptaan-Nya. Melalui buku-buku yang diilhamkan dan buku alam kita harus memperoleh suatu pengetahuan akan Allah.SRNJ2 234.2

    Pikiran manusia itu, menurut hukumnya, lambat laun menyesuaikan keadaannya kepada perkara-perkara yang untuknya pikiran dibiasakan untuk memikir-mikirkannya. Jikalau pikiran diisi hanya oleh perkaraperkara yang biasa saja, pikiran itu akan menjadi kerdil dan lemah. Jikalau tidak pernah diajak bergumul dengan persoalan-persoalan yang sulit, maka setelah sekian lama pikiran akan nyaris kehilangan kuasanya untuk bertumbuh. Sebagai suatu kuasa yang mendidik Alkitab tidak ada saingannya. Di dalam firman Allah pikiran akan menemukan bahanbahan untuk dipikirkan secara mendalam, yang mempunyai cita-cita yang paling tinggi. Alkitab adalah sejarah yang paling bersifat mendidik yang dimiliki manusia. Dengan segamya ia keluar dari sumber kebenaran yang kekal, dan tangan Ilahi telah memelihara kesuciannya sepanjang zaman. la memberikan terang kepada masa yang sudah sangat lama berlalu, dimana penyelidikan manusia tidak sanggup menembusinya. Di dalam firman Allah kita melihat kuasa yang meletakkan dasar dunia ini dan membentangkan langit. Hanya di sini kita dapat menemukan satu sejarah umat manusia yang tidak dinodai oleh prasangka dan kesombongan manusia. Di sini dicatat pergumulan-pergumulan, kekalahan-kekalahan, dan kemenangan-kemenangan orang-orang yang paling besar yang pernah dikenal oleh dunia. Di sini persoalan-persoalan besar dari tugas dan nasib dipaparkan. Tirai yang memisahkan perkaraperkara yang kelihatan dari yang tidak kelihatan disingkapan, dan kita melihat pertarungan antara kuasa kejahatan dengan kebaikan, dari sejak masuknya dosa sampai kepada kemenangan yang terakhir dari yang benar dan kebenaran; dan semuanya itu tidak lain adalah suatu penyataan tabiat Allah. Dalam merenung-renungkan dengan sikap hormat akan kebenar-an-kebenaran yang dinyatakan di dalam firman-Nya itu pikiran para murid dibawa kepada hubungan dengan pikiran yang tidak terbatas. Pelajaran seperti itu bukan hanya akan menghaluskan dan memperagung tabiat, tetapi juga itu tidak akan gagal untuk memperluas dan menguat-kan kuasa pikiran.SRNJ2 234.3

    Pengajaran Alkitab mempunyai pengaruh yang penting terhadap kemakmuran manusia di dalam segala hubungannya dengan hidup ini. Itu memaparkan prinsip-prinsip yang merupakan batu penjuru kemakmuran suatu bangsa-prinsip-prinsip oleh mana terikat kesejahteraan masyarakat, dan merupakan suatu pelindung bagi keluarga prinsipprinsip yang tanpa itu tidak seorang pun dapat memperoleh manfaat, kebahagiaan, dan kehormatan di dalam hidup ini, atau dapat mengharapkan untuk memperoleh kehidupan yang kekal pada masa mendatang. Tidak ada satu kedudukan di dalam hidup ini, tidak ada tingkat pengalaman manusia, yang untuknya pengajaran Alkitab bukan merupakan suatu persiapan yang perlu. Jikalau dipelajari dan ditaati, firman Allah akan menyumbangkan kepada dunia ini manusia-manusia yang mempunyai daya pikir yang lebih kuat dan lebih aktif daripada yang dapat diberikan oleh penurutan yang saksama kepada segala perkara yang dicakup oleh segala filsafat manusia. Itu akan menghasilkan manusia yang tabiatnya kukuh dan teguh, yang pandangannya tajam dan pertimbangannya matang—manusia yang akan menjadi kehormatan bagi Allah dan suatu berkat bagi dunia.SRNJ2 235.1

    Di dalam mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan kita juga harus mem-peroleh suatu pengetahuan tentang Khalik itu. Semua ilmu pengetahuan yang benar hanyalah merupakan suatu tafsiran dari tulisan tangan Allah di dalam dunia benda. Ilmu pengetahuan menghasilkan hasil penyelidikannya hanya bukti-bukti yang segar dari hikmat dan kuasa Allah. Jikalau dipahami dengan benar, baik buku alam ataupun sabda yang tertulis itu akan menjadikan kita berkenalan dengan Allah dengan jalan mengajarkan kepada kita beberapa perkara dari hukum-hukum yang bijaksana dan penuh kemurahan yang melalui itu Ia bekerja.SRNJ2 236.1

    Para murid harus dituntun melihat Allah di dalam segala pekerjaan penciptaan. Para guru harus meniru teladan Guru Agung itu, yang dari perkara-perkara biasa dalam alam ini telah mengambil gambaran yang menyederhanakan pengajaran-Nya, dan menanamkannya lebih dalam lagi di dalam pikiran para pendengar-Nya. Margasatwa yang sedang menyanyi di cabang-cabang pohon, bunga-bunga di lembah, pepohonan yang tinggi, tanah yang subur, gandum yang masak, tanah yang tandus, matahari yang sedang terbenam yang menerangi langit dengan sinar keemasannya—semuanya itu digunakan sebagai alat-alat untuk mengajar. Ia menghubungkan pekerjaan Khalik yang dapat dilihat dengan sabda kehidupan yang diucapkan, agar supaya kapan saja bendabenda ini terlihat oleh mata pendengar-pendengar-Nya itu, maka pikiran mereka akan dapat dialihkan ke pelajaran-pelajaran kebenaran yang telah Ia kaitkan dengan semuanya itu.SRNJ2 236.2

    Cap Keilahian, yang nyata di dalam halaman-halaman yang diilhamkan itu, terlihat di gunung-gunung yang tinggi, lembah-lembah yang subur, dan laut yang luas serta dalam. Benda-benda dalam alam ini menceritakan kepada manusia tentang kasih Khaliknya, la telah menghubungkan kita kepada diri-Nya melalui tanda-tanda yang tidak terhi tung di langit dan di bumi. Dunia ini bukanlah semuanya kesedihan dan penderitaan. “Allah adalah kasih,” tertulis pada setiap kuncup yang mekar, di atas setiap helai bunga, dan setiap helai rumput. Sekalipun kutuk dosa telah menyebabkan dunia ini menumbuhkan duri dan onak, ada bunga-bungaan di atas duri-duri itu, dan onak ditutupi oleh bunga mawar. Segala perkara di dalam alam ini menyaksikan pemeliharaan Allah yang lemah lembut dan bersifat seperti seorang bapa, dan akan keinginan-Nya untuk menjadikan anak-anak-Nya berbahagia. Larangan-larangan dan nasihat-nasihat-Nya bukanlah dimaksudkan hanya sekadar untuk menyatakan wewenang-Nya, tetapi di dalam segala sesuatu yang dilakukan-Nya ia memikirkan kesejahteraan anak-anak-Nya. la tidak menuntut mereka untuk menyerahkan sesuatu yang akan menjadi perkara yang terbaik untuk dimilikinya.SRNJ2 236.3

    Pendapat yang umum di dalam beberapa tingkatan masyarakat, bahwa agama itu tidak berhubungan dengan kesehatan atau kebahagiaan di dalam hidup sekarang ini, adalah salah suatu kesalahan yang paling berbahaya. Alkitab berkata, “Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.” Amsal 19.23. “Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapat-kannya!” Mazmur 34:13-15. Kata-kata hikmat itu “yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.” Amsal 4:22.SRNJ2 237.1

    Agama yang benar membawa manusia kepada keselarasan dengan hukum-hukum Allah, secara jasmani, pikiran dan akhlak. Itu mengajarkan pengendalian diri, ketenangan dan pertarakan. Agama meluhurkan pikiran, menghaluskan perasaan, dan menyucikan pertimbangan. Ia menjadikan jiwa turut ambil bagian akan kesucian surga. Iman dalam kasih Allah dan pimpinan-Nya meringankan beban kecemasan dan urusan hidup. Itu memenuhi hati dengan kesukaan dan kepuasan di dalam keadaan hidup yang tertinggi dan yang terendah. Agama secara langsung cenderung untuk menyehatkan, memperpanjang hidup, dan me- nambahkan kesukaan kita akan segala berkat-berkatnya. Itu membukakan kepada jiwa kita satu sumber kebahagiaan yang tidak pernah kering. Andaikata semua orang yang belum pernah memilih Kristus bisa menyadari bahwa Ia mempunyai sesuatu yang jauh lebih baik untuk diberikan kepada mereka daripada apa yang sedang mereka cari bagi diri mereka sendiri. Manusia sedang berbuat sesuatu ketidakadilan, dan yang membahayakan kepada jiwanya bilamana ia berpikir dan bertindak bertentangan dengan kehendak Allah. Tidak ada kesukaan sejati yang bisa diperoleh pada jalan yang dilarang oleh Dia yang mengetahui apa yang terbaik, dan yang merencanakan apa yang baik bagi makhluk-makhluk-Nya. Jalan pelanggaran menuntun kepada penderitaan dan kebinasaan; tetapi jalan hikmat “adalah jalan penuh bahagia, segala jalannya sejahtera semata-mata.” Amsal 3:17 .SRNJ2 237.2

    Pendidikan jasmani sebagaimana halnya pendidikan keagamaan yang dijalankan di dalam sekolah-sekolah orang Ibrani itu bisa dipelajari dengan memberikan keuntungan. Nilai latihan seperti itu kini tidak dihargai. Ada suatu hubungan yang sangat erat antara pikiran dan jasmani, dan agar supaya dapat mencapai tingkat akhlak dan daya pikir yang tinggi maka hukum yang mengendalikan keadaan jasmani kita harus diperhatikan. Untuk memperoleh tabiat yang kuat dan seimbang, maka baik kesanggupan pikiran dan jasmani harus dilatih dan dikembangkan. Pelajaran apakah yang lebih penting bagi orang muda daripada pelajaran yang berkaitan dengan tubuh yang ajaib yang telah diberikan Allah kepada kita, dan pelajaran tentang hukum-hukum yang memungkinkannya dapat dipelihara dalam keadaan yang sehat?SRNJ2 238.1

    Dan sekarang ini, sebagaimana halnya pada zaman Israel, setiap orang muda harus diajar dalam tugas-tugas yang praktis dalam kehidupan. Masing-masing mereka harus memperoleh pengetahuan dari sesuatu bidang pekerjaan tangan yang dengannya, jikalau diperlukan, ia bisa memperoleh mata pencaharian. Hal ini perlu, bukan saja sebagai suatu pelindung terhadap perubahan dalam kehidupan yang tidak diharapkan, tetapi juga pengaruhnya terhadap perkembangan jasmani, pikiran dan akhlak. Sekalipun dapat dipastikan bahwa seseorang tidak pernah akan memerlukan hasil pekerjaan tangan untuk membiayai hidupnya, tetap ia harus diajar bekerja. Tanpa latihan jasmani, tidak seorang pun akan memiliki keadaan tubuh yang baik dan sehat serta kuat; dan disiplin kerja yang teratur dengan baik tidak kurang perlunya untuk memperoleh suatu pikiran yang kuat dan aktif, dan suatu tabiat yang agung.SRNJ2 238.2

    Setiap pelajar harus menggunakan sebagian dari waktunya setiap hari untuk bekerja secara giat. Dengan demikian kebiasaan dalam hal kerajinan dan satu semangat kemandirian akan ditingkatkan, sementara itu orang muda akan terlindung dari berbagai kejahatan dan perbuatan-perbuatan yang merusak yang sering merupakan akibat kemalasan. Dan semuanya ini selaras dengan tujuan utama pendidikan, oleh karena dengan mendorong kegiatan, kerajinan, dan kesucian kita sedang mendekatkan diri kepada keserasian dengan Khalik itu.SRNJ2 239.1

    Biarlah orang muda dituntun memahami tujuan mengapa mereka telah dijadikan, untuk menghormati Allah dan menjadi berkat kepada sesama manusia; biarlah mereka melihat kasih yang lembut dari Bapa yang di surga yang telah dinyatakan kepada mereka, dan masa depan yang mulia untuk mana disiplin dalam hidup yang sekarang ini akan mempersiapkan mereka, martabat serta kehormatan ke mana mereka telah dipanggil untuk pergi, bahkan untuk menjadi anak-anak Allah, dan ribuan orang akan berpaling dengan rasa jijik serta cemoohan dari tujuan-tujuan yang rendah dan bersifat mementingkan diri, dan dari kepelesiran yang tidak berarti yang hingga saat itu telah mengasyikkan mereka. Mereka akan belajar membenci dosa dan menjauhkan diri dari padanya, bukan sematamata untuk mendapat upah atau karena takut dihukum, tetapi didorong oleh suatu perasaan kekejian yang terkandung di dalamnya, oleh karena itu akan merusak kesanggupan-kesanggupan yang telah diberikan Allah kepada mereka, suatu noda kepada peta Allah yang ada dalam kemanusiaan mereka.SRNJ2 239.2

    Allah tidak memerintahkan orang muda supaya bercita-cita rendah. Unsur-unsur tabiat yang menjadikan seseorang berhasil dan dihormati di antara manusia—keinginan yang tidak dapat dipendam untuk menjadi lebih baik, kemauan yang keras, usaha yang sungguh-sungguh, ketabahan yang tidak pernah menyerah—janganlah dimusnahkan. Oleh anugerah Allah semuanya itu harus diarahkan kepada tujuan-tujuan yang lebih tinggi daripada perkara-perkara yang fana dan bersifat mementingkan diri sebagaimana langit lebih tinggi dari pada bumi ini. Dan pendidikan yang telah dimulai di dunia ini akan dilanjutkan di dalam hidup yang akan datang. Hari demi hari pekerjaan Allah yang ajaib itu, bukti-bukti hikmat dan kuasa-Nya di dalam menciptakan dan menopang alam semesta ini, rahasia yang tidak terduga dari kasih dan hikmat dalam rencana penebusan, akan terbuka kepada pikiran dalam satu keindahan yang baru. “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia; semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” 1 Korintus 2:9. Sekalipun di dalam kehidupan yang sekarang ini kita bisa memperoleh sekilas pandang dari pada hadiratNya dan merasakan kesukaan berhubungan dengan surga, tetapi kesempumaan kesukaan dan berkatnya akan dicapai di dunia yang akan datang nanti. Hanya masa kekekalan saja yang dapat menyatakan masa depan yang mulia yang ke dalamnya manusia, setelah dikembalikan kepada peta Allah, akan tiba.SRNJ2 239.3

    Larger font
    Smaller font
    Copy
    Print
    Contents