Go to full page →

5—Kain dan Habel Diuji SRNJ1 73

Kain dan Habel, anak-anak Adam, berbeda sekali dalam tobiat mereka. Habel memiliki roh kesetiaan kepada Tuhan; Ia melihat keadilan dan rahmat di dalam hubungan Khalik terhadap umat yang berdosa, dan dengan penuh rasa syukur menerima pengharapan penebusan itu. Tetapi Kain memanjakan roh pemberontakan dan bersungut-sungut terhadap Allah oleh sebab kutuk yang dijatuhkan ke atas bumi ini dan kepada umat manusia karena dosa Adam. Ia membiarkan pikirannya sejalan dengan arah yang telah memimpin kepada kejatuhan Setan—memanjakan keinginan untuk meninggikan diri dan meragukan keadilan serta kekuasaan llahi. SRNJ1 73.1

Kedua bersaudara ini telah diuji, sebagaimana Adam telah diuji sebelumnya, untuk membuktikan apakah mereka mau percaya dan menurut firman Allah. Mereka mengetahui akan persediaan yang telah diadakan untuk keselamatan manusia, dan mengerti tata cara persembahan yang telah ditetapkan Allah. Mereka harus menyatakan iman di dalam Juruselamat yang dilambangkan oleh persembahan itu, dan pada saat yang sama untuk mengakui bahwa mereka bergantung sepenuhnya kepada Dia untuk mendapat keampunan; dan mereka mengetahui bahwa dengan mengikuti rencana Ilahi bagi penebusan mereka, mereka membuktikan penurutan mereka kepada kehendak Allah Tanpa tercurahnya darah tidak akan ada pengampunan dosa; dan mereka harus menunjukkan iman mereka di dalam darah Kristus sebagai penebusan yang dijanjikan dengan cara mempersembahkan anak sulung domba mereka sebagai korban. Di samping itu, buah sulung hasil bumi harus dipersembahkan kepada Tuhan sebagai persembahan syukur. SRNJ1 73.2

Kedua bersaudara ini sama-sama mendirikan mezbah mereka dan masing-masing membawa persembahan. Habel membawa satu korban dari antara kawanan dombanya sesuai dengan petunjuk Tuhan. “Maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya.” Api memancar dari surga dan membakar korban itu. Tetapi Kain, telah melanggar petunjuk dan perintah Tuhan yang jelas itu, dengan hanya membawa persembahan buah-buahan. Tidak ada tanda-tanda dari surga bahwa persembahannya diterima. Habel mengajak saudaranya untuk menghampiri Allah dengan cara seperti yang telah dijelaskan Tuhan tetapi bujukan Habel itu hanya membuat Kain lebih nekad untuk mengikuti kemauannya. Sebagai anak sulung ia merasa terlalu tinggi untuk menerima nasihat saudaranya, dan ia pun menolaknya. SRNJ1 74.1

Kain datang ke hadapan Allah disertai persungutan dan tidak percaya di dalam hatinya sehubungan dengan korban yang dijanjikan itu dan perlunya persembahan korban itu. Pemberiannya tidak menyatakan adanya pertobatan dari dosanya. Ia merasa, sebagaimana banyak orang sekarang ini, bahwa adalah merupakan satu kelemahan untuk mengikuti dengan saksama akan rencana yang telah digariskan oleh Tuhan, untuk mempercayakan keselamatan itu dengan sepenuhnya kepada penebusan Juruselamat yang telah dijanjikan. Ia memilih untuk bergantung kepada diri sendiri. Ia mau mengandalkan jasa baiknya sendiri. Ia tidak mau membawa domba dan mencampur darahnya dengan persembahannya, melainkan mempersembahkan buah-buahan, hasil jerih payahnya. Ia menghadapkan persembahannya itu sebagai satu jasa baiknya kepada Tuhan, melalui mana ia mengharapkan untuk memperoleh persetujuan Ilahi. Kain menurut dalam mendirikan sebuah mezbah, menurut dalam hal membawa satu korban; tetapi satu penurutan yang hanya sebagian saja. Bagian yang perlu pengakuan akan kebutuhan seorang Penebus, telah diabaikan. SRNJ1 74.2

Sehubungan dengan kelahiran mereka dan petunjuk-petunjuk keaga-maan yang mereka terima, kedua bersaudara ini adalah sama. Keduaduanya adalah orang berdosa, kedua-duanya mengakui tuntutan Allah dalam hal perbaktian dan penghormatan. Sampai titik tertentu agama mereka kelihatannya sama dari luamya, tetapi lebih dari itu perbedaan antara keduanya sangatlah besar. SRNJ1 75.1

“Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik daripada korban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati.” Ibrani 11:4. Habel dapat memahami prinsip-prinsip penebusan yang agung itu. Ia melihat dirinya sebagai seorang yang berdosa dan ia melihat dosa serta hukumannya yaitu kematian, berdiri diantara jiwanya dan perhubungannya dengan Tuhan. Ia membawa korban yang tersembelih itu kehidupan yang dikorbankan, dengan demikian mengakui tuntutan-tuntutan hukum yang telah dilanggar. Melalui darah yang tertumpah ia memandang kepada korban yang akan datang, Kristus yang mati di atas salib Golgota; dan sambil berharap kepada penebusan yang diadakan di sana, ia mempunyai bukti bahwa ia benar dan persembahannya diterima. SRNJ1 75.2

Kain mempunyai kesempatan yang sama untuk belajar dan menerima kebenaran-kebenaran ini sebagaimana halnya Habel. Ia bukanlah meru-pakan korban dari satu tindakan yang sewenang-wenang. Seorang tidak dipilih untuk diterima Tuhan dan yang lain untuk ditolak, Habel memilih iman dan penurutan; Kain memilih tidak percaya dan pemberontakan. Di sinilahletak masalahnya. SRNJ1 75.3

Kain dan Habel menggambarkan dua golongan yang akan ada di dalam dunia ini sampai kesudahan zaman. Satu golongan yang akan berharap kepada korban yang telah ditentukan bagi dosa; yang lainnya sengaja bergantung kepada jasa baik diri mereka; usaha mereka ini adalah satu korban tanpa jasa pengantaraan Ilahi, dan dengan demikian itu tidak akan dapat membawa manusia kepada satu keadaan yang diperkenankan Allah. Hanya melalui jasa-jasa Yesus maka pelanggaran-pelanggaran kita dapat diampuni. Mereka yang tidak merasa perlunya darah Kristus, yang merasa bahwa tanpa anugerah Ilahi mereka dapat memperoleh persetujuan Allah melalui usaha sendiri adalah sedang berbuat kekeliruan sebagaimana halnya Kain. Jikalau mereka tidak menerima darah yang menyucikan itu, mereka berada di bawah hukuman. Tidak ada jalan lain oleh mana mereka dapat dilepaskan dari perhambaan dosa. SRNJ1 75.4

Golongan orang yang berbakti dengan mengikuti teladan Kain mencakup jumlah yang lebih besar di dalam dunia ini; oleh karena hampir setiap agama palsu didasarkan atas prinsip yang sama, bahwa manusia dapat bergantung atas usahanya sendiri untuk mendapat keselamatan. Diakui oleh banyak orang bahwa itu dapat menghaluskan, meninggikan dan membarui diri mereka. Sebagaimana Kain berpikir untuk memperoleh persetujuan Ilahi melalui satu persembahan yang tidak berisi darah korban, demikian juga mereka ini mengharapkan akan dapat mengangkat kemanusiaan kepada ukuran Ilahi dengan tidak bergantung kepada penebusan. Sejarah Kain menunjukkan apa yang harus menjadi akibatnya. Itu menunjukkan apa yang terjadi kepada manusia bilamana terpisah dari Kristus. Kemanusiaan tidak mempunyai kuasa untuk membarui dirinya. Itu tidak mempunyai kecenderungan untuk bergerak menuju ke atas, kepada yang bersifat Ilahi, melainkan ke bawah menuju kepada yang bersifat Iblis. Kristuslah satu-satunya pengharapan kita. “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan. Kisah 4:12. SRNJ1 76.1

Iman yang benar, yang bergantung sepenuhnya kepada Kristus, akan dinyatakan melalui penurutan kepada semua tuntutan-tuntutan Allah mulai dari zaman Adam sampai sekarang ini pertarungan yang besar itu menyangkut penurutan terhadap hukum Allah. Dalam segala zaman selalu ada orang yang mengaku diperkenankan Tuhan sekalipun mereka tetap melanggar beberapa dari antara hukum-Nya. Tetapi Alkitab menyatakan bahwa oleh perbuatan, “iman menjadi sempuma,” dan bahwa, tanpa usaha penurutan, iman itu “mati”. Yakub 2:22, 17. Ia yang mengaku kenal Allah, “tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” 1 Yohanes 2:4. SRNJ1 76.2

Pada waktu Kain melihat bahwa persembahannya ditolak, ia marah terhadap Tuhan dan Habel; ia marah karena Tuhan tidak menerima usaha manusia sebagai pengganti korban yang telah ditetapkan oleh Ilahi, dan marah terhadap saudaranya karena telah memilih untuk menurut Allah gantinya bergabung dalam pemberontakan terhadap Tuhan. Walaupun Kain tidak menghargai perintah Ilahi, Tuhan tidak membiarkan dia begitu saja; tetapi Ia rela turun untuk bermusyawarah dengan seorang yang bertindak dengan tidak sepantasnya. Dan Tuhan bersabda kepada Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Melalui malaikat amaran Ilahi disampaikan. “Apakah mukamu tidak akan berseri jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu.” Pilihan ada di tangan Kain sendiri. Jikalau ia mau berharap kepada jasa Juruselamat yang dijanjikan itu serta mau menurut tuntutan-tuntutan Allah, ia akan diperkenankan oleh Tuhan. Tetapi kalau saja ia berkeras tidak mau percaya dan tetap melanggar ia tidak mempunyai alasan untuk bersungut bahwa ia tidak diterima oleh Tuhan. Tetapi gantinya mengakui dosanya, Kain terus bersungut bahwa Allaha tidak adil dan terus memanjakan cemburu serta kebencian terhadap Habel. Dengan marah ia menyalahkan Habel dan berusaha untuk mengajaknya berdebat tentang perlakuan Allah terhadap mereka. Dengan lemah lembut, tetapi tanpa rasa takut dan dengan teguh, Habel membela keadilan dan kebajikan Allah. Ia menunjukkan kesalahan Kain dan berusaha meyakinkan dia bahwa kesalahan ada di pi pihaknya. Ia menyebutkan belas kasihan Tuhan yang telah membiarkan orangtua mereka hidup di mana sebenarnya Ia dapat menghukumkan mereka dengan kematian di saat itu juga, dan Ia menyatakan bahwa Tuhan mengasihi mereka, kalau tidak, tentu Ia tidak akan mau memberikan Anak-Nya, yang suci dan tidak bersalah, untuk menderita hukuman yang telah diakibatkan oleh dosa mereka. Semuanya ini telah menyebabkan kemarahan Kain makin menjadi-jadi. Pemikiran dan nurani mengatakan kepadanya bahwa Habel berada pada pihak yang benar, tetapi dia menjadi sangat gusar karena orang yang tidak mau menaruh perhatian terhadap ajakannya itu sekarang ini mencoba untuk melawan dia, dan juga karena ia tidak mendapat simpati di dalam pemberontakannya. Di dalam nafsu marahnya ia telah membunuh saudaranya. SRNJ1 77.1

Kain membenci dan membunuh saudaranya, bukan oleh karena ada sesuatu kesalahan yang telah dilakukan oleh Habel, tetapi “sebab segala perbuatannya jahat dan perbuatan adiknya benar.” 1 Yohanes 3:12. Demikian pula pada segala zaman orang jahat membenci orang-orang yang lebih baik dari pada mereka. Kehidupan Habel yang penuh penurutan dan imannya yang teguh merupakan satu tempelakan yang terusmenerus kepada Kain. “Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak.” Yohanes 3:20. Lebih bercahaya terang surga yang dipantulkan dari tabiat hamba-hamba Allah yang setia, lebih jelas dosa orang jahat dinyatakan dan lebih nekad lagi usaha mereka untuk membinasakan orang-orang yang mengganggu ketenangan mereka. SRNJ1 78.1

Pembunuhan Habel adalah contoh yang pertama tentang permusuhan yang Tuhan telah nyatakan akan ada di antara ular dan benih perempuan itu—antara Setan dan pengikut-pengikutnya dengan Kristus dan pengikut-pengikut-Nya. Melalui dosa manusia, Setan telah memperoleh kuasa untuk mengendalikan umat manusia, tetapi Kristus akan menyanggupkan mereka untuk melepaskan diri dari cengkramannya. Kapan pun saja melalui iman di dalam Anak Domba Allah, seseorang meninggalkan pelayanan terhadap dosa, maka amarah Setan akan berkobar-kobar. Kehidupan Habel yang suci menjadi saksi yang melawan pernyataan Setan yang menyatakan bahwa mustahil bagi manusia menurut hukum Allah. Pada waktu Kain, digerakkan oleh roh si jahat, melihat bahwa ia tidak dapat menguasai Habel, ia menjadi begitu marah sehingga ia telah membinasakan hidupnya. Dan di mana saja ada seseorang yang berdiri teguh untuk mempertahankan kebenaran hukum Allah, maka roh yang sama itu akan dinyatakan terhadap mereka, itu adalah roh yang sepanjang zaman telah mendirikan tonggak-tonggak kayu dan menyalakan api pembakaran bagi murid-murid Kristus. Tetapi segala kekejaman yang telah ditimpakan ke atas pengikut-pengikut Yesus itu dibangkitkan oleh Setan dan malaikat-malaikatnya oleh karena mereka tidak dapat memaksa dia untuk menyerah kepada kekuasaan mereka. Itu adalah kemarahan dari seteru yang sudah dikalahkan. Setiap orang yang mati syahid bagi Yesus telah mati sebagai seorang pemenang. Nabi berkata, “Dan mereka mengalahkan dia (ular tua itu yang disebut Iblis dan Setan) oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.” Wahyu 12:11. SRNJ1 78.2

Kain si pembunuh itu dengan segera dipanggil untuk mempertang-gungjawabkan kejahatannya. “Firman Tuhan kepada Kain, ‘Di manakah Habel, adikmu itu?’ Jawabnya: ‘Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?” Kain telah hanyut terlalu jauh dalam dosa sehingga ia telah kehilangan satu perasaan akan hadirat Allah, akan kebesaran-Nya serta kemahatahuan-Nya. Jadi ia pun telah menggunakan dusta untuk menyem-bunyikan kesalahannya. SRNJ1 79.1

Kembali Tuhan berkata kepada Kain, “Apakah yang telah kauperbuat ini? Darah adikmu itu berteriak kepada-Ku dari tanah.” Tuhan telah memberikan kepada Kain suatu kesempatan untuk mengakui dosanya. Ia telah diberi waktu untuk berpikir-pikir. Ia mengetahui kekejian dari pada perbuatan yang telah dilakukannya; tetapi ia tetap memberontak sehingga hukuman tidak dapat ditunda lebih lama lagi. Suara Ilahi yang telah terdengar berupa bujukan dan nasihat sekarang mengucapkan katakata yang mengerikan ini: “Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi.” Walaupun Kain oleh kejahatannya patut untuk menerima hukuman mati, Khalik yang rahmani tetap membiarkan ia hidup, dan memberikan kesempatan untuk bertobat. Tetapi Kain hidup hanya untuk mengeraskan hatinya, membangkitkan pemberontakan terhadap kekuasaan Ilahi dan menjadi pemimpin dari kelompok orang yang berdosa yang berani dan sekarang terbuang. Kemurtadan yang satu ini, yang dipimpin oleh Setan, menjadi satu penggoda bagi yang lainnya; dan contoh serta pengaruhnya telah menimbulkan kuasa yang merusakkan moral, sehingga dunia menjadi begitu jahat dan dipenuhi kekejaman sehingga perlu untuk dibinasakan. SRNJ1 79.2

Dengan membiarkan si pembunuh yang pertama itu hidup, Tuhan menghadapkan kepada alam semesta satu pelajaran sehubungan dengan pertarungan yang besar itu. Sejarah Kain dan keturunannya yang gelap itu adalah merupakan satu gambaran apa yang akan menjadi akibatnya bilamana orang yang berdosa dibiarkan untuk hidup selama-lamanya untuk melancarkan pemberontakannya terhadap Allah. Kesabaran Allah hanya menjadikan orang jahat itu lebih berani dan lebih sombong di dalam kejahatan mereka. Lima belas abad setelah hukuman itu dijatuhkan kepada Kain, semesta alam ini menyaksikan buah-buah dari pada pengaruh dan teladannya, di dalam kejahatan dan pencemaran yang melanda bumi ini. Jelaslah bahwa hukuman mati yang diucapkan kepada umat yang berdosa oleh karena pelanggaran terhadap hukum Allah itu adalah adil dan penuh rahmat. Lebih lama manusia hidup dalam dosa, lebih tidak peduli lagi mereka. Hukuman Ilahi yang memperpendek satu jalan hidup kejahatan yang tak terkendalikan itu serta membebaskan dunia ini dari pengaruh mereka yang telah menjadi keras di dalam pemberontakan, adalah merupakan satu berkat gantinya kutuk. SRNJ1 80.1

Setan senantiasa bekerja, dengan usaha yang gigih dan di bawah seribu satu macam kedok, untuk menampilkan tabiat dan pemerintahan Allah dengan salah. Dengan rencana-rencana yang diatur dengan baik serta kuasa yang ajaib, ia sedang berusaha untuk menguasai penduduk bumi ini di bawah tipu dayanya. Allah, Pribadi yang Maha Bijaksana dan Yang Tiada Batasnya itu, melihat kesudahan dari awainya, dan di dalam perlakuan-Nya terhadap Iblis rencana-Nya mempunyai jangkauan yang luas dan menyeluruh. Tujuan-Nya bukanlah semata-mata untuk memusnahkan pemberontakan, tetapi juga untuk menyatakan kepada semesta alam akan sifat dari pada pemberontakan itu. Rencana Allah membentangkan dan menunjukkan keadilan dan rahmat-Nya, dan dengan sepenuhnya membenarkan kebijaksanaan serta kebenaran-Nya di dalarn perlakuan-Nya terhadap Iblis. SRNJ1 80.2

Penduduk dunia-dunia lain yang tidak berdosa mengamat-amati dengan perhatian yang dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di atas bumi ini. Di dalam keadaan dunia yang terjadi sebelum Air Bah mereka melihat gambaran-gambaran hasil pemerintahan yang telah diusahakan Lusifer untuk didirikan di surga, dengan menolak kekuasaan Kristus dan menyisihkan hukum Allah. Di dalam diri orang-orang berdosa yang berkuasa pada zaman sebelum Air Bah mereka melihat hamba-hamba yang berada di bawah kungkungan Setan. Angan-angan hati manusia adalah jahat semata-mata. Kejadian 6:5. Setiap perasaan, setiap dorongan serta keadaan pikiran adalah bertentangan dengan prinsip-prinsip Ilahi yang ditandai oleh kesucian, damai dan kasih. Itu merupakan satu kemerosotan yang mengerikan sebagai akibat dari pada cara kerja Setan untuk menyisihkan tuntutan-tuntutan hukum-Nya yang suci dari makhluk Tuhan. SRNJ1 80.3

Dengan fakta-fakta yang terbit dari pertarungan yang besar itu, Tuhan menyatakan prinsip-prinsip aturan pemerintahan-Nya yang telah dipalsukan oleh Setan dan oleh semua orang yang telah ditipunya. Keadilan-Nya pada akhirnya akan diakui oleh seisi dunia, sekalipun pengakuan itu akan diadakan setelah terlambat untuk menyelamatkan pemberontak-pemberontak itu. Alam semesta bersimpati dan mengerti akan tindakan Allah bilamana rencana-Nya yang besar itu langkah demi langkah menuju kegenapannya yang sempurna. Demikian juga halnya dengan tindakan Allah dalam menghapuskan pemberontakan itu untuk terakhir kalinya. Akan terlihat bahwa semua orang yang meninggalkan hukum-hukum Ilahi itu telah menempatkan diri di pihak Setan, dalam peperangan melawan Kristus. Pada waktu penghulu dunia ini dihukum dan semua yang telah menggabungkan diri dengan dia akan alami nasib yang sama, segenap alam ini sebagai saksi-saksi terhadap hukuman itu akan menyatakan, “Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!” Wahyu 15:3. SRNJ1 81.1