Loading...
Larger font
Smaller font
Copy
Print
Contents
  • Results
  • Related
  • Featured
No results found for: "undefined".
  • Weighted Relevancy
  • Content Sequence
  • Relevancy
  • Earliest First
  • Latest First
    Larger font
    Smaller font
    Copy
    Print
    Contents

    46—IA DIMULIAKAN

    HARI sudah menjelang malam ketika Yesus memanggil ke samping-Nya tiga dari antara murid-murid-Nya, Petrus, Yakobus dan Yohanes, dan menuntun mereka melalui ladang-ladang dan mendaki jalan yang jauh ke suatu lereng gunung yang sepi. Juruselamat dan murid-murid-Nya telah menggunakan hari itu mengadakan perjalanan dan mengajar, dan pendakian ke gunung itu menambah keletihan mereka. Kristus telah mengangkat beban dari pikiran dan tubuh banyak penderita. Ia telah memberikan kegairahan hidup melalui tubuh mereka yang sudah lemah; tetapi Ia juga dikelilingi dengan kemanusiaan, dan bersama murid-murid-Nya Ia merasa letih karena pendakian itu.KSZ2 29.1

    Cahaya matahari yang sedang terbenam masih menyinari puncak gu-nung itu dan menyepuh jalan yang sedang mereka tempuh dengan ke-indahannya yang lambat laun memudar. Tetapi tidak lama kemudian te-rang itu pun lenyaplah dari bukit dan lembah, matahari lenyap di ufuk barat, dan pejalan-pejalan yang kesepian itu diselubungi kegelapan malam. Keadaan yang gelap di sekitar tempat mereka tampaknya sesuai dengan kehidupan mereka yang penuh kesusahan, yang di sekelilingnya awan sedang berkumpul dan menebal.KSZ2 29.2

    Murid-murid tidak berani menanyakan kepada Kristus mau pergi ke mana Dia, atau untuk maksud apa. Ia sering menggunakan sepanjang malam di gunung-gunung untuk berdoa. Ia, yang dengan tangan-Nya telah menjadikan gunung dan lembah merasa senang berada di alam terbuka, dan menikmati ketenangannya. Murid-murid mengikuti jalan yang ditempuh Kristus, meskipun demikian mereka merasa heran mengapa Tuhan menuntun mereka Ke pendakian yang meletihkan ini pada saat mereka sudah lelah, dan ketika Ia juga memerlukan istirahat.KSZ2 29.3

    Dengan segera Kristus mengatakan kepada mereka bahwa Kini mereka tidak usah pergi lebih jaun lagi. Setelah melangkah agak jauh dari mereka, Manusia Duka itu mencurahkan permohonan-Nya dengan tangisan yang keras disertai air mata. Ia berdoa memohon kekuatan menahan ujian demi kepentingan umat manusia. Ia Sendiri narus mendapat pegangan yang segar pada Yang Mahakuasa, karena hanya dengan demikian Ia dapat merenungkan masa depan. Dan la mencurahkan kerinduan hatiNya bagi murid-murid-Nya, supaya pada saat kuasa kegelapan .man mereka tidak gagal. Embun yang tebal membasahi tubuh-Nya yang sedang tunduk itu, tetapi Ia tidak menghiraukannya. Bayang-bayang malam menutupi Dia, tetapi Ia tidak memperhatikan kegelapannya. De-mikianlah saat-saat berlalu. Mula-mula murid-murid menyatukan doa mereka dengan doa-Nya dalam permohonan yang tekun, tetapi sesaat kemudian mereka dikalahkan oleh Kelelahan, dan meskipun mereka berusaha mempertahankan minat mereka pada peristiwa itu, namun mereka tertidur. Yesus telah menceritakan kepada mereka tentang penderitaanNya; Ia telah membawa mereka serta-Nya supaya mereka dapat bersatu dengan Dia dalam doa, pada saat itu Ia sedang mendoakan mereka. Juruselamat telah melihat Kemurungan murid-murid-Nya, aan rindu meri-ngankan kesedihan mereka dengan suatu jaminan bahwa iman mereka tidak sia-sia. Bukan itu saja, bahkan supaya kedua belas murid itu, dapat menerima penyataan yang hendak diberikan-Nya. Hanya ketiga murid yang menyaksikan dukacita-Nya di Getsemani itulah yang telah dipilih untuk menyertai Dia di gunung. Sekarang beban doa-Nya ialah agar kepada mereka ditunjukkan kemuliaan yang dimiliki-Nya dengan Bapa sebelum dunia diciptakan, supaya kerajaan dinyatakan kepada mata manusia, dan supaya murid-murid-Nya dikuatkan untuk memandangnya. Ia memohon agar mereka menyaksikan kenyataan Keilahian-Nya yang akan menghiburkan mereka pada saat kesengsaraan-Nya yang hebat dengan mengetahui bahwa sesungguhnya Ialah Anak Allah, dan bahwa kematian-Nya yang memalukan merupakan sebagian dari rencana pene-busan.KSZ2 30.1

    Doa-Nya didengar. Sementara Ia tunduk dengan kerendahan hati di atas tanah yang berbatu, tiba-tiba langit pun terbuka, gerbang-gerbang keemasan kota Allah terbuka lebar, dan sinar yang suci turun ke atas gu-nung itu, menyelubungi tubuh Juruselamat. Keilahian dari dalam bercahaya melalui kemanusiaan, dan bertemu dengan kemuliaan yang datang dari atas. Setelah bangkit dari sujud, Kristus berdiri dalam kebesaran seperti Allah. Kesengsaraan jiwa pun lenyap. Wajah-Nya kini bersinar “seperti matahari” dan jubah-Nya menjadi “putih bersinar seperti terang.”KSZ2 31.1

    Setelah terbangun murid-murid memandang kemuliaan yang tidak terperikan yang menerangi gunung itu. Dalam ketakutan dan keheranan mereka memandang tubuh Tuhan mereka yang bersinar itu. Ketika mereka disanggupkan supaya tahan melihat terang yang ajaib itu, mereka melihat bahwa Yesus tidak sendirian. Di samping-Nya ada dua makhluk surga dalam percakapan yang mesra dengan Dia. Mereka adalah Musa, yang telah bercakap-caicap dengan Allah di atas Gunung Sinai, dan Elia, yang kepadanya kesempatan yang tinggi telah diberikan-dikaruniakan hanya kepada seorang dari anak-anak Adam—tidak pernah mengalami kuasa maut.KSZ2 31.2

    Di atas Gunung Pisgah lima belas abad sebelumnya, Musa telah berdiri sambil memandang ke Tanah Perjanjian. Tetapi karena dosanya di Meriba, ia tidak diperkenankan memasukinya. Kegembiraan memimpin umat Israel ke dalam warisan nenek moyang mereka tidak diberikan kepadanya. Permohonannya yang penuh kepedihan, “Biarlah aku menyeberang dan melihat negeri yang baik yang di seberang Sungai Yordan, tanah pegunungan yang baik itu, dan Gunung Libanon” (UI. 3:25), tidak dikabulkan. Harapan yang selama empat puluh tahun telah menerangi kegelapan pengembaraan di padang belantara harus diingkari. Kubur di padang belantara menjadi tujuan tahun-tahun kerja keras dan kesusahan yang membebani hati. Tetapi Ia yang “dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan” (Ef. 3:20) dalam tindakan ini telah menjawab doa hamba-Nya. Musa melalui kuasa kematian, tetapi ia tidak tinggal di dalam kubur. Kristus Sendiri memanggil dia keluar kepada kehidupan. Setan penggoda itu telah menuntut tubuh Musa karena dosanya, tetapi Kristus Juruselamat membangkitkan dia dari kubur. Yudas 9.KSZ2 31.3

    Di atas gunung, di tempat Yesus dipermuliakan, Musa menyaksikan kemenangan Kristus atas dosa dan kematian. la mewakili mereka yang akan keluar dari kubur pada saat kebangkitan orang benar Elia yang sudah diubahkan dan diangkat ke surga tanpa mengalami kematian, mewakili mereka yang akan tetap hidup di bumi ini pada saat kedatangan Kristus kedua kalinya, dan yang akan “diubah dalam sekejap mata, pada waktu bunyi nafiri yang terakhir,” “dalam keadaan yang tidak dapat binasa,” dan “karena yang dapat binasa ini harus mengenakan yang tidak dapat binasa, dan yang dapat mati ini harus mengenakan yang tidak dapat mati.” 1 Kor. 15:51-53. Yesus mengenakan terang surga, sebagaimana Ia akan kelihatan ketika Ia datang “sekali lagi tanpa menanggung dosa.” Karena Ia akan datang “dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikatmalaikat kudus.” Ibr. 9:28; Mrk. 8:38. Sekarang janji Juruselamat kepada murid-murid digenapi. Di atas gunung itu kerajaan kemuliaan yang akan datang digambarkan dalam bentuk kecil--Kristus sebagai Raja, Musa mewakili orang saleh yang dibangkitkan, dan Elia mewakili orang saleh yang diubahkan.KSZ2 32.1

    Murid-murid itu masih belum mengerti akan penglihatan itu, tetapi mereka bergembira karena Guru yang sabar dan yang rendah hati itu, yang telah mengembara ke berbagai tempat sebagai seorang asing yang tidak berdaya, dihormati oleh orang-orang yang diangkat Tuhan ke surga. Mereka percaya bahwa Elia sudah datang untuk mengumumkan pemerintahan Mesias, dan bahwa kerajaan Kristus sudah hampir didirikan di atas dunia. Kenangan mengenai ketakutan dan kekecewaan akan mereka buang selama-lamanya. Di sinilah, di tempat kemuliaan Allah dinyatakan, mereka ingin tinggal. Petrus berseru. Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa, dan satu untuk Elia.” Murid-murid yakin bahwa Musa dan Elia telah diutus untuk melindungi Tuhan mereka, dan untuk mendirikan kekuasaan-Nya sebagai raja.KSZ2 32.2

    Tetapi sebelum mahkota diperoleh harus ada salib. Bukannya penobatan Kristus sebagai raja melainkan kematian yang akan dilaksanakan di Yerusalem, ialah pokok pembicaraan dan perbincangan mereka dengan Yesus. Dengan menanggung kelemahan manusia, dan dibebani dengan kesusahan dan dosa, Yesus berjalan sendirian di ‘engah manusia. Ketika kegelapan ujian datang menimpa Dia, Ia berada dalam kesepian jiwa, dalam suatu dunia yang tidak mengenal-Nya. Murid-murid-Nya yang kekasih sekalipun, yang sangat dipengaruhi dengan kebimbangan dan kesusahan serta harapan mereka yang penuh ambisi itu, tidak memahami rahasia tugas-Nya Ia tinggal d. tengah kasih dan persekutuan surga, tetapi dalam dunia yang telah diciptakan-Nya, Ia berada dalam kesepian. Sekarang surga telah mengirim utusan-utusannya kepada Ye-sus, bukannya malaikat-malaikat melainkan manusia yang telah menanggung penderitaan dan kesusahan, dan yang dapat menaruh simpati kepada Juruselamat dalam ujian hidup-Nya di dunia ini. Musa dan Elia telah bekerja bersama-sama dengan Kristus. Mereka turut mengambil bagian dalam keinginan-Nya untuk keselamatan manusia. Musa telah memohon bagi Israel: “Tetapi sekarang, kiranya Engkau mengampuni dosa mereka itu—dan jika tidak, hapuskanlah kiranya namaku dari dalam kitab yang telah Kautulis.” Kel. 32:32. Elia mengalami kesepian jiwa, karena selama tiga setengah tahun kelaparan ia telah menanggung beban kebencian bangsa itu serta celakanya. Ia telah berdiri sendirian bagi Allah di atas Gunung Karmel. Ia telah melarikan diri sendirian ke padang belantara dalam keadaan sedih dan putus asa. Orang-orang ini, yang dipilih lebih dari setiap malaikat di sekeliling takhta, telah datang bercakap-cakap dengan Yesus mengenai peristiwa penderitaan-Nya, dan menguburkan Dia dengan jaminan simpati surga. Harapan dunia, keselamatan setiap manusia, merupakan beban wawancara merekaKSZ2 33.1

    Karena tidak dapat menahan kantuk, murid-murid mendengar sedikit saja dari apa yang dibicarakan oleh Kristus dengan utusan-utusan surga itu. Karena gagal berjaga dan berdoa, mereka tidak menerima apa y anu hendak diberikan Allah kepada mereka-suatu pengetahuan tentang penderitaan Kristus dan kemuliaan yang harus mengikutinya. Mereka kehilangan berkat yang seharusnya menjadi bagian mereka oleh meng-ambil bagian dari pengorbanan diri-Nya. Murid-murid ini lambat percaya. kurang menghargai harta yang dengannya surga berusaha memperkaya mereka.KSZ2 33.2

    Meskipun demikian mereka menerima terang yang besar. Mereka di’ beri jaminan bahwa segenap surga mengetahui dosa bangsa Yahudi dalam menolak Kristus. Mereka diberi suatu pandangan yang lebih jelas tentang pekerjaan Penebus. Mereka melihat dengan mata kepala sendiri serta mendengar dengan telinga sendiri perkara-perkara yang sukar dipahami oleh manusia. Mereka “saksi mata dari kebesaran-Nya” (2 Ptr 1 :16), dan mereka menyadari bahwa Yesus sesungguhnya Mesias, yang tentang Dia, bapa-bapa dan nabi-nabi telah menyaksikan bahwa Ia diakui demikian oleh semesta alam.KSZ2 34.1

    Sementara mereka memandang pada peristiwa di atas gunung itu, “turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nya-lah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Ketika mereka memandang awan kemuliaan itu. lebih terang dari awan yang menuntun suku-suku Israel di padang belantara; ketika mereka mendengar suara Allah berbicara dalam kebesaran yang mendahsyatkan yang menyebabkan gunung itu bergetar, murid-murid itu pun jatuh tersungkur ke tanah. Mereka tetap tersungkur. muka mereka tersembunyi, sampai Yesus mendekati mereka, dan menjamah mereka, melenyapkan ketakutan mereka dengan suaraNya yang sudah dikenal, “Berdirilah, jangan takut!” Setelah memberanikan diri untuk mengangkat muka, mereka melihat bahwa kemuliaan surga sudah lalu, dan wajah Musa dan Elia sudah lenyap. Mereka berada di atas gunung bersama Yesus.KSZ2 34.2

    Larger font
    Smaller font
    Copy
    Print
    Contents